Ramadhanku telah berlalu.. hanya dalam hitungan yang tak lama lagi..
Biasanya saat-saat seperti ini, orang akan berucap dimana-mana bahwa mereka merindukan Ramadhan..
Namun hati ini bertanya, apa benar demikian adanya?
Karena jika memang rindu Ramadhan, harusnya mereka melanjutkan puasanya, agar bulan yang lain tetap terasa seperti Ramadhan..
Jika memang rindu Ramadhan, harusnya tetap engkau hidupkan tadarus Al Quran yang selama sebulan penuh ini lazim berkumandang..
Harusnya engkau teruskan juga kebiasaan sholat berjamaah di masjid, lengkap dengan semua sarung, mukena dan wangi-wangian yang sebulan ini kita tampilkan..
Juga zakat sedekah yang saat Ramadhan ini seolah kita wajibkan karena meyakini kebaikan bulannya..
Jika memang rindu pada Ramadhan, bukankah seharusnya itu yang kita lakukan??
Ramadhan itu sebenarnya tak hanya mulia karena memang diciptakan demikian adanya.. tapi juga karena amalan-amalan baik yang selama Ramadhan itu dilakukan oleh manusia secara sadar, konsisten, beramai-ramai dan berlomba-lomba..
Maka tatkala semua itu terus dilakukan,, bukankah Ramadhan juga akan menjadi hadir di setiap bulan bagi kita??
Maka aku pun bertanya pada diriku, bukankah seharusnya aku juga merindukan Ramadhan??
Seperti kebanyakan status facebook, twitter, dan BBM yang pasti sebentar lagi akan bermunculan dan bertebaran,. Bahkan lewat broadcast-broadcast yang sebenarnya sudah mulai membosankan..
Tapi aku pun juga tak bisa memungkiri betapa senangnya pula aku ditinggalkan Ramadhan karena sebentar lagi, makanan akan banyak terhidang..
Saudara, kerabat dan handai taulan datang berkunjung untuk bersalam-salaman..
Tetangga datang bermaaf-maafan..
Dan warung makan buka di kala siang..
Semua itu jugalah yang aku rindukan,,
Maka aku bingung sekarang.. apakah aku harus berpura-pura kehilangan Ramadhan supaya dikira alim.. atau aku menyambut syawal dengan riang sebagai fitrahku bersenang-senang??
Aku ini hanya hamba yang munafik yang hanya ingin terlihat alim di depan manusia, tapi sesungguhnya tak tahu apa sebenarnya yang dirindukannya..
Lha wong semua yang katanya dirindukan tidaklah dilakukan.. bukankah ini hanya kemunafikan agar tetap dipandang manusia beriman??
Duh gusti Allah ku,.. aku bingung harus bersikap..
Aku tak ingin menjadi orang yang Kau sebut dalam kitab Mu, “maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta”.
Hamba tak ingin berdusta kepada Mu..
Maka aku mengakui, iman ini belum cukup untuk mengerti bahasa MU..
Ramadhan ini adalah nikmat yang Engkau berikan.. dan sudah seharusnya hamba merindukannya..
Maka aku berdoa, cukupkan ilmu hamba, tinggikan iman hamba agar hamba Mu ini benar-benar mengerti bahasa kasih Mu, lalu merindukan semua kebaikanmu termasuk Ramadhan yang baru saja meninggalkanku..
Jadikanlah aku manusia yang mampu meletakkan kesenangan dunia di bawah kakiku hingga aku mampu memperbudaknya..
Bukan manusia yang menaruh harta di kepalanya, hingga aku menjadi dibuat sibuk terus memikirkannya..
Apalagi sampai menjadi manusia yang mencintai harta hingga ke lubuk hatinya, hingga tak rela hati ini sejenak tidak memperdulikannya..
Karena aku ingin hanya bisa menikmati setiap nikmat Mu.. aku hanya ingin bisa menikmati setiap pemberian Mu..
Lalu bersyukur dan merindu tatkala nikmat itu tak kunjung datang kepadaku..
Seperti nikmat Ramadhan Mu..
Walaupun sebenarnya aku mengerti apa yang menjadi penyebab kebingunganku,,
Bisa jadi aku tak lagi terlalu merindukan Ramadhan karena aku begitu doyan akan makanan,,
Bisa jadi aku tak lagi terlalu rindu dengan Ramadhan karena aku sudah lebih senang sholat sendirian..
Bisa jadi aku tak lagi terlalu rindu dengan Ramadhan karena aku sudah sibuk dengan ponsel genggam dari pada menggenggam Al Qur’an..
Bisa jadi aku tak lagi terlalu rindu dengan Ramadhan karena aku sudah mulai tak menghitung zakat sebagai kewajiban..
Bisa jadi aku tak lagi terlalu rindu dengan Ramadhan karena aku tak lagi suka dengan segala hal yang menahan.. hingga tanpa sadar sebenarnya aku sudah bergelar serakah,. Tapi berdalih agar bisa membantu lebih banyak orang susah..
Aku ingin kembali kepada fitrahku yang sebenarnya..
Hingga tanpa tanda kurung lagi aku bisa berkata,
Aku Seharusnya Merindukan Ramadhan, jika memang aku beriman..
0 komentar:
Posting Komentar